Pohon Beringin

Oktober 23, 2007 at 1:30 pm (Mistis)

9.jpgPohon beringin dikenal dengan “pohon berjalan” atau “pohon berkaki banyak”. Ia dijuluki “pohon berjalan” karena suka merambah ke mana-mana seperti politikus yang gemar berbisnis atau pebisnis yang suka berpolitik. Ia disebut dengan “pohon berkaki banyak” karena kaki kekuasaannya di mana-mana, membuat jorok dan sumpek wilayah di sekitarnya.

Di mana-mana, barisan pohon beringin sebenarnya menjadi hiasan yang menyejukkan mata. Kalau akar-akarnya sudah menggelantung panjang ke bawah, politikus yang kayak anak-anak pasti senang karena bisa bermain ayunan sembari berteriak-teriak bagaikan seorang Tarzan.

Di India, pohon beringin sangat dihormati sebagai makhluk pelindung manusia. Ironisnya, di Jakarta pohon-pohon beringin bertumbangan dari tahun ke tahun. Bayangkan, Kedutaan Besar Inggris saja sudah tidak menghargai pohon beringin yang ditebang habis meskipun warnanya enggak kuning. Rupanya, partai politik berlambang pohon beringin memang sudah tidak punya teman dan tidak dihargai lagi!

Sesungguhnya, pohon beringin itu indah dan spesial seperti martabak telor. Ia tumbuh dari benih-benih yang disemai oleh burung-burung di pohon- pohon palem yang cepat tumbuh tinggi. Namun, begitu menjadi besar, palem-palem itulah yang disingkirkan persis seperti dulu benih-benih Orde Baru menendang Bung Karno dari kekuasaan.

Cabang-cabang kekuasaan pohon beringin begitu cepat turun dan menancap di bumi. Saking begitu cepat dan kuat tumbuhnya, cabang-cabang itu membuat anakan-anakan di sekitar induk pohonnya. Oleh sebab itulah dulu ada cabang-cabang atau anakan-anakan yang terbuat dari ABRI, dari birokrasi, dari wartawan, dan dari 1.001 jalur lainnya.

Berkat jasa lusinan anakan itu, pohon beringin biasanya mengambil wilayah kekuasaan yang luasnya lebih dari lapangan sepak bola. Di Sri Lanka, ada pohon beringin dengan jumlah anakan yang mencapai 350 buah yang besar, dan sekitar 3.000 anakan yang kecil-kecil.

DI Indonesia, anakan-anakan alias anak-anak pejabat Orde Baru yang nemplok di pohon beringin kala itu tidak kalah banyak. Di pohon beringin bukan cuma ada Dewan Pinisepuh, tetapi ada pula dewan- dewan terselubung yang menampung berbagai kepentingan pribadi, keluarga, bisnis, dan politik lewat dewan eyang kakung, dewan eyang putri, dewan ndoro putri, dewan den bagus, dan dewan cucu-cucu.

Kalau pohon beringin sedang berbuah, banyak burung berbagai jenis, seperti burung bulbul dan kakatua, yang mampir untuk mencicipi kelezatannya. Suasana menjadi meriah dan berisik seperti musyawarah pohon beringin di masa Orde Baru. Semua burung yang mampir itu memakai batik keren, berbau wangi, mengangguk-angguk tanda setuju soal apa saja, persis seperti presiden waktu itu.

Manusia jangan coba-coba dekat-dekat pohon beringin itu untuk memakan buahnya karena mereka bisa mati! Apalagi manusia-manusia yang aktif menentang pohon beringin yang dikategorikan menjadi golongan ekstrem kanan atau kiri, seperti Petisi 50 atau mahasiswa- mahasiswa tukang protes angkatan tahun 1974 dan 1978.

Memang paling enak berteduh di bawah pohon beringin. Anakan-anakan sang pohon itu bertebaran ke mana-mana sehingga membentuk lubang-lubang menganga yang adem dan sejuk. Makanya di lubang-lubang itu ada bajing, koruptor, kalong, ketua yayasan, kadal, kelompencapir, tikus, fungsionaris, keong, pebisnis, ular, Pancasilais, burung hantu, manusia Indonesia seutuhnya, kera, dan lain-lain.

Di India, pohon beringin pasti ditanam di setiap desa karena dipercaya sebagai pohon suci. Pedagang, pengacara, calo, terdakwa, tukang cukur, jenderal, tukang ramal, sampai aktivis perempuan biasanya buka praktik di bawah pohon. Semuanya merasa layak terpilih menjadi calon presiden yang merasa hebat memimpin di bawah pohon beringin.

Di berbagai tempat di Indonesia pohon beringin dianggap angker sehingga setiap pengendara yang lewat mesti menyalakan klakson. Waktu kecil, saya dulu takut bermain-main di bawah pohon beringin di halaman istana Paku Alam di Yogyakarta karena menyebarkan aura seram lengkap dengan aroma asap rokok kelobot.

Saya bertambah takut ketika mengikuti kampanye pohon beringin oleh seorang menteri di kota-kota di Pulau Sulawesi di tahun 1982. Saking bersemangatnya, dengan suara berkobar-kobar, dengan tangan dan tinju diacungkan tinggi-tinggi, sang menteri tak henti-hentinya berteriak geram bahwa warga pohon beringin harus bersikap mo-no-lo-yo-li-tas di hadapan pegawai negeri. Oh, maksudnya monoloyalitas!

Lebih menyeramkan lagi mengikuti kampanye menteri pohon beringin lainnya di Jakarta, juga tahun 1982. “Pemimpin dan rakyat daripada negara ini musti mengabdiken Pancasila. Dus oleh karena itu, negara ini hanya mengenal daripada hak asasi masyarakat, bukan hak asasi daripada manusia!” katanya.

SAYANG sekali pohon-pohon beringin tidak ditebang habis sampai akar-akarnya sampai sekarang ini. Secara perlahan- lahan, tahap demi tahap, dan secara sembunyi-sembunyi, banyak warga tidak kapok karena terus saja menanam pohon beringin di halaman mereka.

Mestinya kita jangan mau kalah sama pemerintahan Cina. Di masa Revolusi Kebudayaan dulu, Mao Zedong menghancurkan pohon beringin-juga pohon-pohon lainnya-yang berada di kebun raya karena dianggap “feodal dan borjuis”. Pohon beringin di Indonesia mestinya dibonsaikan saja.

Akibat tidak ditebang habis, pohon beringin itu kembali tumbuh menjadi besar. Tiba-tiba banyak orang yang merasa mempunyai tempat berteduh lagi. Saking rajin berkumpul, para peneduh itu bukan mustahil akan membentuk NKRTI (Negara Kesatuan Republik Terdakwa Indonesia).

Saya punya teman, namanya AT-jangan salah, bukan Ketua Umum Partai Golkar (PG). Dia mengatakan PG pimpinan Bang Akbar Tandjung sekarang semakin nge-top karena terus- terusan menjadi bahan pemberitaan media massa nasional berkat gagasan brilian konvensi calon presiden.

Jangan salah, PG jelas bukan Golkar masa Orde Baru. Bang Akbar sendiri waktu kampanye tahun 1999 bolak-balik bilang bahwa ini Golkar baru!

PG jelas anti-Golkar. PG juga sengaja dimaksudkan sebagai singkatan dari Parental Guidance, sebuah kategori kelayakan film-film Hollywood. Anda wajib melarang anak-anak berteduh di bawah pohon beringin.Soalnya, bahaya!

1 Komentar

  1. Akbar said,

    Klo Menurut gw Pohon Beringin tu… pohon yg agak nyeremin apalagi klo malem terasa lebih agker daripada siang. tp jngan salah pohon beringin juga banyak manfaatnya 1. pohon beringin tuh kalo buat neduh lebih sejuk dibandingin pohon lain. 2. pohon beringin terlihat amat indah dibanding pohon lain karena daunnya yg lebat n akarnya yg bergelantungan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: